Faktanya negeri yang KATANYA ramah tamah ini, hampir setiap hari warga Ibukotanya selalu saling bertengkar Cuma karena berebut masuk kedalam kereta, saling mencaci karena tidak tahan terhadap kemacetan yang sebenarnya mereka sendirilah yang menyebabkan, dan selalu marah walaupun dirinya salah ketika ditegur karena melanggar aturan, memang tidak semua, namun tidaklah sedikit yang sudah dan sedang berubah kearah sana.
Dimana keramah-tamahan Indonesia? “Mungkin didaerah.” Rasanya itu juga merupakan omong kosong, karena kalau kita tonton berita di TV, kita baca di situs berita, atau kita dengar diradio tidak jarang terjadi kerusuhan hanya karena masalah-masalah yang sebenarnya kalau dipikir-pikir adalah masalah kecil yang harusnya dapat diselesaikan dengan kata “maaf.” Apakah si pelanggar yang enggan mengungkapkan maaf atau sebaliknya pihak terlanggar terlalu sombong untuk memaafkan?
Mungkin, Indonesia memang bangsa yang ramah… tapi…. Itu dulu, dulu sekali ketika bangsa ini masih sadar bahwa bangsa kita ini masih tertinggal, ketika bangsa ini masih sadar bahwa dirinya butuh bantuan orang lain untuk dapat maju, dan ketika bangsa ini sadar bahwa uang bukan segalanya.
Sulit memang untuk mengubah orang lain, apalagi mengubah sebagian atau bahkan mayoritas dari sebuah bangsa, dan ketika kita memilih untuk diam maka bukan tidak mungkin kita menjadi salah seorang dari para “penggerutu.” Orang yang tidak sadar bahwa dirinya telah menjadi bagian dari para manusia individualis yang tidak ramah tamah.
Keramah-tamahan mungkin sudah hilang bersama dengan ego masyarakat yang terus diseret oleh media yang makin hari makin tidak berkualitas, atau mungkin oleh rasa bangga diri karena selalu dicekoki dengan ungkapan “Indonesia kaya! Indonesia hebat!.”
Padahal… Bangsa ini harus sadar bahwa bangsa ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa saat ini.
Sulit memang untuk mengubah orang lain, apalagi mengubah sebagian atau bahkan mayoritas dari sebuah bangsa, dan ketika kita memilih untuk diam maka bukan tidak mungkin kita menjadi salah seorang dari para “penggerutu.” Orang yang tidak sadar bahwa dirinya telah menjadi bagian dari para manusia individualis yang tidak ramah tamah.
Keramah-tamahan mungkin sudah hilang bersama dengan ego masyarakat yang terus diseret oleh media yang makin hari makin tidak berkualitas, atau mungkin oleh rasa bangga diri karena selalu dicekoki dengan ungkapan “Indonesia kaya! Indonesia hebat!.”
Padahal… Bangsa ini harus sadar bahwa bangsa ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa saat ini.
Comments
Post a Comment